KOMUNIKASI INTERPERSONAL DISABILITAS TUNARUNGU WICARA DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB) ABCD KUNCUP MAS BANYUMAS

YUNIASIH DWI CANDRA KIRANA, NIM 1423102086 (2018) KOMUNIKASI INTERPERSONAL DISABILITAS TUNARUNGU WICARA DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB) ABCD KUNCUP MAS BANYUMAS. Skripsi thesis, IAIN Purwokerto.

[img]
Preview
Text
COVER_BAB I_BAB V_DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (457kB) | Preview
[img] Text
YUNIASIH DWI CANDRA KIRANA_KOMUNIKASI INTERPERSONAL DISABILITAS TUNARUNGU WICARA DI SEKOLAH DASAR.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)

Abstract

Komunikasi merupakan suatu hal yang mengikat bagi manusia baik dilakukan secara verbal atu pun nonverbal. Komunikasi nonverbal merupakan penguat makna dari komunikasi verbal. Dalam pelaksanaan komunikasi tentu berbeda antara orang normal dengan orang kurang normal, misalnya individu yang mengalami keterbatasan dalam hal mendengar dan berbicara (tunarungu wicara). Individu tunarungu wicara memiliki ciri khas dalam melakukan komunikasi yaitu abjad jari yang didukung oleh nonverbal ekspresi wajah dan gerakan tubuh lainnya. Peneliti tertarik untuk mengulas komunikasi interpersonal nonverbal individu berkebutuhan khusus tunarungu wicara khusus kelas 1 dan 2 di SDLB Kuncup Mas Banyumas berdasarkan perbedaan tingakat ketunarunguan pada kegiatan belajar mengajar. Alasan penliti pada kelas 1 dan 2 tingkat Sekolah Dasar yaitu, kelas tersebut adalah kelas yang sesuai dengan judul yang akan diulas oleh peneliti, sedangkan alasan memilih sekolah tersebut, yaitu adanya keterbatasan akses pada sekolah SLB, sehingga sekolah SLB Kuncup Mas Banyumas menjadi pilihan peneliti. Penelitian ini dilakukan guna menjawab pertanyaan tentang komunikasi interpersonal nonverbal dalam kegiatan belajar mengajar secara langsung pada anak berkebutuhan khusus tunarungu wicara di SDLB Kuncup Mas Banyumas khusus kelas 1 dan 2 berdasarkan tingkat ketunarunguan, dengan harapan dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan kajian komunikasi yang berkenaan dengan komunikasi nonverbal disabilitas tunarungu wicara, memberikan pandangan baru berkenaan dengan komunikasi nonverbal disabilitas tunarungu wicara, menambah khazanah keilmuan prodi KPI Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto, dapat menjadi informasi awal bagi penelitian serupa di masa mendatang. Selain itu juga memberi masukan akademis bagi pemerhati individu disabilitas, khususnya disabilitas tunarungu wicara, memberikan wacana tentang komunikasi nonverbal disabilitas tunarungu wicara dalam kegiatan belajar mengajar dan menyajikan wawasan kepada masyarakat. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (Field Research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data didapatkan dari Kepala Sekolah dan guru kelas 1, 2 SDLB Kuncup Mas Banyumas dengan cara wawancara mendalam, dokumentasi serta obeservasi partisipan. Setelah proses tersebut sudah dilalui maka dilakukanlah analisis data dengan pendekatan langkah Miles dan Huberman, yaitu pengumpulan data, reduksi data, analisis data, dan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori Symbolic Interactionism Herbert Blumer, dimana terdapat tiga premis. Premis pertama mengatakan bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki benda-benda itu bagi mereka. Premis kedua, makna-makna tersebut merupakan hasil interaksi sosial yang terus-menerus dan terjadi berulang-ulang dalam suatu masyarakat. Sehingga premis ketiga mengatakan bahwa makna-makna tersebut diperbaharui melalui suatu proses penafsiran yang digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan objek yang dihadapinya. Hal tersebut dapat berubah sesuai dengan konteks dalam ruang dan waktu yang membingkai interaksi. Komunikasi dengan individu tunarungu sedang lebih mudah dibandingkan tunarungu berat atau total. Tunarungu sedang dengan sebuah gebrakan atau suara keras, mimik yang jelas kemungkinan besar masih bisa merespon, sedangkan tunarungu total hanya diam tanpa respon. Untuk mendapatkan respon dari tunarungu berat atau total selain dibutuhkan suara keras, mimik jang jelas dan lebih pelan juga dibutuhkan pengaturan jarak fisik sedekat mungkin tidak kurang dari satu meter. Selama penelitian penulis menemukan 3 isyarat nonverbal tunarungu wicara yang ternyata tidak semuanya sama dengan kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Isyarat tersebut dinamakan isyarat lokal. Tiga isyarat berbeda, tetapi sama makna yang dilakukan oleh guru sebagai komunikator bisa dikatakan kreatif dan efektif. Kreatif karena, guru mampu menyajikan pesan sesuai dengan kondisi yang ada, tanpa terpaku pada kamus SIBI. Sehingga berlangsung efektif karena feed back yang didapatkan guru sama dengan harapannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Komunikasi interpersonal, nonverbal, disabilitas tunarungu wicara
Subjects: 2x7 Filsafat dan Perkembangan > 2x7.3 Pendidikan > 2x7.34 Pendidikan Non Formal > 2x7.344 Pendidikan Keterampilan Khusus
300 Social sciences > 370 Education > 371 School management; special education > 371.9 Special Education (Difables)
Divisions: Fakultas Dakwah > Komunikasi dan Penyiaran Islam
Depositing User: Sdri Siswa Prakerin
Date Deposited: 06 Aug 2018 00:07
Last Modified: 06 Aug 2018 00:07
URI: http://repository.iainpurwokerto.ac.id/id/eprint/4070

Actions (login required)

View Item View Item